
Kita harus tahu, bahwa: Facebook, Twitter, Webb-blog, BBM, dan sebagainya; tidaklah mencerminkan HAKIKAT DIRI SESEORANG..
1. Maka kita pun harus tahu, sebagai pihak yang hanya tahu dari dunia maya saja; maka kita hanya MENGAMBIL ZHAHIR dari apa yang nampak pada dirinya di dunia maya.. tidak perlu, kita cari-cari tahu “ilmunya luas banget.. ini ilmunya apa uda diamalin ya SELURUHnya?!” karena kita TIDAK DIWAJIBKAN untuk meng-investigasi kehidupan seseorang yang bukan tanggung jawab kita..
2. Dan kita pun harus tahu, sebagai pihak yang memposting ilmu-ilmu yang bermanfaat; hendaknya kita BERUSAHA menjadikan DIRI KITA sebagai orang YANG PERTAMA KALI mengamalkan ilmu tersebut, dan kita BERUSAHA sebagai orang YANG ISTIQAMAH diatas ilmu tersebut..
Jadi selain PINTAR dalam menasehati, kita juga pintar dalam MENGAMALKANNYA dan TETAP DIATASNYA.. walaupun SANGAT JARANG kita dapatkan orang yang demikian, sekalipun diri kita sendiri.. akan tetapi TETAPLAH BERUSAHA dan OPTIMISTIS.. milik Allah-lah segala taufiq (maka rajin-rajinlah berdoa kepadaNya meminta taufiqNya, dan usahakanlah pada diri kita taufiq tersebut)..
3. setelah kita menerapkan point no. 2 untuk DIRI KITA SENDIRI; maka hal tersebut TIDAK SERTA MERTA kita terapkan kepada ORANG LAIN.
Cobalah jujur, terhadap point kedua, apakah engkau SUDAH SEMPURNA mengamalkan UNTUK DIRIMU?! Jika tidak, mengapa engkau mengharapkan orang lain untuk dapat sempurna mengamalkannya?!
Maka BELAJARLAH MEMBERIKAN UDZUR terhadap SAUDARAMU yang SUDAH ENGKAU KETAHUI dan KENAL berpegang teguh diatas kebenaran..
a) Katakan kepada dirimu, “ah mungkin saja ia punya udzur”
b) SELALU BERTANYA, SEBELUM MEN-JUDGE!
“akhi, ana dapati postingan antum, seperti ini.. bisakah antum memberikan penjelasan?”
Kan ini lebih enak didengar.. dan dengan pertanyaan ini, kita akan tahu, apakah perbuatannya tersebut justru memiliki dalil dan pemahaman yang benar ataukah tidak? atau mungkin ia memiliki motif yang dapat ditolerir? atau mungkin ia masih memiliki udzur?
Bedakan dengan ini:
“antum ini… kok begini sih.. (sambil marah-marah, layaknya seorang guru kepada muridnya, atau orang tua kepada anaknya)”
c) Kalaupun SECARA REALITAS.. ia tidak memiliki udzur.. bukankah TIDAK ADA GADING YANG TAK RETAK?
Sebagaimana diri kita juga memiliki aib tersendiri?! atau justru kita merasa tidak memiliki aib, karena sibuk dengan mencari-cari aib orang lain?
Jika kita TAHU diri kita (dan setiap orang PASTI) MEMILIKI AIB, maka demikian pula saudara kita ini.. maka kita menasehati dirinya, sebagaimana hati kita menasehati diri kita sendiri.. taruhlah posisi diri kita dalam dirinya.. niscaya kita akan baik dalam menasehati, dan akan sampai kebenaran.. yang semoga Allah memberikan hidayah kepadanya dengan ditinggalkannya aib tersebut..
4. Dan tiga point diatas pun, hanyalah nasehat, yang SETIAP ORANG gampang sekali mengatakannya.. akan tetapi REALITAnya, sangat sulit BAGI DIRI KITA (termasuk diri ana sendiri) untuk dapat mengamalkannya apalagi ISTIQAMAH diatasnya.. akan tetapi kita harus OPTIMIS, BERUSAHA mewujudkannya kepada diri kita, dan MEMOHON HIDAYAH kepada Allah, agar kita dapat mengamalkannya, dan tetap diatasnya..
Semoga bermanfaat (terutama bagi ana dan keluarga) dan juga yang lain..
Jaga Hati