@ib1430 - Dr Ibrahim al Humaidhi Dosen Ilmu al Quran di Universitas Qoshim, anggota dewan pembina di Yayasan al Birr al Khairiyah
Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti.
Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran.
Karena terkadang penantian.
Membuka pintu-pintu syaithan.

Fudhail Ibnu Iyadh at-Tamimi ( Lahir di Khurasan kemudian pindah ke Kufah, dan tinggal di Mekkah hingga wafat di awal tahun 187 H pada masa Harun al-Rasyid. Ia seorang tsiqah, ahli ibadah dan wira’i) berkata:
“Seandainya dikatakan kepadamu: Hai orang yang riya’!, pasti kamu marah dan berat bagimu, meskipun itu benar. Kamu telah berdandan untuk dunia dan berpura-pura, kamu pendekkan pakaianmu (hingga tidak isbal, tidak menjulur menutup mata kaki), dan baguslah penampilanmu, hingga dikatakan kepadamu bahwa kamu adalah ‘abid (ahli ibadah), lalu mereka memuliakanmu, memperhatikanmu, menginginkanmu dan memberi hadiah-hadiah kepadamu. ( Siyar A’lam an-Nubala’, VIII/4739)
Ia juga mengatakan:
” مَنِ اسْتَوْحَشَ مِنَ الْوِحْدَةِ وَ اسْتَأْنَسَ بِالنَّاسِ لمَ ْيَسْلَمْ مِنَ الرِّيَاءِ “Barang siapa merasa kesepian karena sendirian, dan merasa senang karena ada banyak orang maka ia tidak akan selamat dari riya’.” (as-Siyar, VII/436)
Suatu hari Sufyan ats-Tsauri dan Fudhail bin Iyadh bertemu lalu bermudzakarah dan menangis berdua. Saat itu Sufyan berkata:
“Saya berharap semoga majlis kita ini yang paling banyak berkahnya. Fudhail menimpali: Akan tetapi saya malah khawatir kalau majlis kita ini yang paling membawa sial. Bukankah kamu melihat apa yang terbaik yang ada pada dirimu, lalu kamu berhias untukku dan aku berhias untukmu? Hingga isak tangisnya terdengar keras, kemudian berkata: Engkau telah menyadarkanku, semoga Allah menghidupkanmu.” (Hilyatul Auliya’, VII/64)
~ Sebuah pengingat untuk diri sendiri..
Sumber: Majalah Qiblati
Seseorang pernah bertanya kepadaku, “Apa yang membuat setiap tulisanmu dibaca merdu?”
Aku hanya menjawab, “Sesungguhnya jika sesuatu itu datangnya dari hati, maka hati yang lain akan merasakannya, karena hanya hati yang mampu merasakan hati, jadi, sesuatu itu benar-benar akan terbaca indah, jika sesuatu itu murni datangnya dari hati yang sungguh-sungguh mencintai.”
(via ummufairuz)
lelaki,
jangan bermain dengan sekeping hati.
lelaki,
jangan mudah bermain kata.
tanpa sebarang niat merealisasikannya ke dunia nyata.
lelaki,
kerana hati kami boleh jadi terlalu rapuh,
maka jangan pernah kau berniat meruntuhkannya dengan rayuan dan godaan.
lelaki,
kerana hati kami sudah acapkali dicemari,
maka jangan pernah kau berniat memasukinya, menakluki hati kami,
sebagai bukti kehebatanmu.
lelaki,
ingatlah suatu perkara,
bila tiada apa yang pasti,
jangan pernah berjanji.
jangan membina harapan,
jangan membuat kami menaruh impian.
bukankah cinta tak harus melukai?
lelaki,
ketahuilah,
kami ini umpama tulang rusuk yang bengkok.
bila berkeras, ia akan patah,
bila dibiar maka akan tetap membengkok.
maka, bila tak mampu membantu kami memperbaiki diri, meningkatkan iman dan amal kami,
maka jangan kau persulitkan urusan kami.
menjauhlah dan pergi.
Jika belum siap, maka tutup pintunya rapat-rapat. Bila perlu, gembok dengan rantai terbaik. Kemudian lemparkan anak kuncinya ke dalam samudera. Begitulah cara menjaga hati dan perasaan. Jangan khawatir kamu tidak mampu menemukan kembali kuncinya, karena jika memang sudah waktunya, seseorang yang baiklah yang akan membawa kembali kuncinya dan membuka sendiri pintu hatimu.
Ibnul Qayyim berkata, “Al Qalbu As Salim, hati yang selamat bukanlah hati yang jahil terhadap keburukan dan tidak mengenalinya, justru ia mengenalinya namun tidak berhasrat dengannya. Sebaliknya ia kenali kebaikan dan bersemangat dengannya”.
Kegembiraanmu karena kesuksesan orang lain adalah tanda bersihnya hatimu.

“Suatu ketika, Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar di kota Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan bertanya,
Wahai Abu Ishaq, الله berfirman di dalam kitab suci-Nya,
ادعوني أستجب لكم
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu”. (Q.S. Ghaafir: 10)
Sementara kami selalu berdoa semenjak lama, tetapi tidak kunjung dikabulkan.
Lalu, Ibrahim berkata,
يا أهل البصرة ماتت قلوبكم في عشرة أشياء أولها عرفتم الله ولم تؤدوا حقه. الثاني قرأتم كتاب الله ولم تعملوا به. والثالث ادعيتم حب رسول الله صلى الله عليه وسلم وتركتم سنته. والرابع ادعيتم عداوة الشيطان ووافقتموه. والخامس قلتم نحب الجنة ولم تعملوا لها. والسادس قلتم نخاف النار ورهنتم أنفسكم بها. والسابع قلتم إن الموت حق ولم تستعدوا له. والثامن اشتغلتم بعيوب إخوانكم ونبذتم عيوبكم والتاسع أكلتم نعمة ربكم ولم تشكروها. والعاشر دفنتم موتاكم ولم تعتبروا بهم .
Artinya: Wahai warga Basrah, hati kalian sudah mati dalam sepuluh hal:
1.Kalian mengenal الله, tetapi tidak mau menunaikan hak-Nya.
2.Kalian membaca kitabullah, tetapi tidak mau mengamalkannya.
3.Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
4.Kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tetapi kalian akur dengannya.
5.Kalian mengatakan cinta kepada surga, tetapi tidak mau beramal menuju ke sana.
6.Kalian mengatakan takut kepada neraka, tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian kepadanya.
7.Kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8.Kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.
9.Kalian memakan karunia Rabb kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.
10.Kalian mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.
——Referensi—— [ Hilyatul Auliyawa Thabaqatul Asyfiya. Abu Nua’aim Ahmad bin Abdillah Al-Asfahani. Beirut: Darul Kitab Al-Arabiy (cetakan IV, tahun 1405 H). Juz 8, halaman 15 via software Makatabah Syamilah ]”
— http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3311889721896&set=a.1145019671499.2021951.1407747484&type=1&ref=nf (via erstudio)
“Jika kita mendapati perasaan ‘UJUB (bangga diri) pada hati kita, maka segeralah cek ‘AIB-AIB’ kita dengan detail (yakin kita punya ‘AIB).
Jika kita tidak mendapatkan ‘AIB itu dalam diri kita sendiri ketahuilah kita adalah orang yang paling bodoh…!”

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } فَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } خَرَجَ عَنْ الرِّيَاءِ وَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } خَرَجَ عَنْ الْإِعْجَابِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفِ : { ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ }
“Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa’ dan ujub.
Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain).
Adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya). Ini merupkan kondisi orang yang sombong.
Orang yang riyaa’ tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ
“Hanya kepadaMulah kami beribadah”,
Dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan”.
Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa’
Dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub.”
(Majmuu’ Al-Fataawaa 10/277).