@almonajjid - Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA.
Bagaimana ia menginginkan surga, sementara waktu untuk Allah ia sisipkan diantara sisa-sisa waktunya dalam kesibukan dunia dan maksiat?
“Jagalah kehormatan diri! Niscaya istri dan anak gadismu akan selalu terjaga.
Jauhilah segala sesuatu yang tidak pantas dilakukan seorang muslim.
(Karena) sesungguhnya zina adalah hutang. Jika kamu meminjamnya…
Maka ketahuilah, keluargamu yang bakal menjadi tebusannya.
Barangsiapa berzina, maka keluarganya akan dizinai.
Jika bukan keluarganya, maka dinding rumahnya ‘kan menjadi sasaran.
Jika engkau orang yang bijaksana, Maka camkanlah hal ini.”
(Imam Asy Syafi’i)
وزن الكلام إذا نطقت ، فإنما يبدي العقول أو العيوب المنطق
Dan timbanglah ucapanmu jika engkau berkata..
Karena sesungguhnya ucapan itu dapat mengungkapkan pemikiran atau aib seseorang…
Blessed is the one whose good works continue to bear fruit even after he himself departs from this world.
Kematian, adalah sebuah kepastian yang kita tidak suka mengingatnya tapi ianya tak kan pernah melupakan kita. Kan jadi masalah apabila Anda melupakan sesuatu yang ianya tak kan melupakan Anda. Anda selalu ingat dunia, padahal dunia kan melupakan Anda. Antara kita dan kematian hanya dipisahkan waktu yang singkat saja, maka segeralah kita bertaubat.
3 akun yang ‘kan diperlihatkan setelah Anda mati:
(1) Akun bank Anda, kan diperlihatkan pada ahli waris Anda
(2) Akun twitter Anda, kan diperlihatkan pada follower Anda
(3) Akun (catatan) amalan Anda, Allah kan perlihatkan pada Anda sembari dikatakan kpd Anda
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (al Isra: 14)

“When there is money in your hand and not in your heart, it will not harm you even if it is a lot. And when it is in your heart, it will harm you even if there is none in your hands.” (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah)
“Yaa Rabb letakkanlah dunia di tanganku.. tapi jangan letakkan ia di hatiku.
Cukupkan yang halal atasku, hingga yang haram itu tak lagi menyilaukan mataku…”
Anak Berprestasi atau Anak Berbakti?
“(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shalih, juga akan diperuntukkan kepada…

Saudaraku, pernahkah anda bersyukur ketika mendapatkan pasangan anda sedang cemburu?
Biasanya, Suami merasa tidak nyaman alias pusing bila menghadapi istri yang sedang cemburu atau bahkan mudah cemburu.
Sebalikya juga demikian, sebagai istri anda mungkin merasa tersiksa bila suami anda mudah cemburu.
Namun pernahkah anda berpikir, mengapa suami atau istri anda bisa cemburu?
Saudaraku, ketahuilah bahwa sejatinya cemburu adalah ekspresi dr rasa cinta dan kesetiaan. Karena itu syukurilah bila pasangan anda cemburu, dan marahlah bila pasangan anda tdk lagi merasa cemburu.
Suatu malam hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar dari rumahnya. mengetahui beliau keluar rumah, ‘Aisyah segera membuntutinya kawatir bila beliau pergi ke rumah istrinya yg lain.
Namun betapa kecewanya ‘Aisyah, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam perhi ke pekuburan Baqi’ untuk mengucapkan salam dan mendoakan penghuni pekuburan Baqi’.
Setelah mengetahui tujuan Nabi, segera ‘Aisyah bmembalikkan badan dan pulang ke rumahnya. namun sebelum ‘Aisyah beranjak balik ke rumahnya, Rasulullah telah melihat sosok ‘Aisyah dari kejauhan, karena itu beliau segera mengejar ‘Aisyah.
Setiba ‘Aisyah di rumahnya ia segera berpura2 tidur, namun tetap saja ia tidak kuasa menyembunyikan nafasnya yang terengah-engah.
Mendapatkan istrinya yang masih terengah-engah, beliau shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadanya:
مَا لَكِ؟ يَا عَائِشَةُ أَغِرْتِ؟» فَقُلْتُ: وَمَا لِي لَا يَغَارُ مِثْلِي عَلَى مِثْلِكَ؟Apa yang telah terjadi pada dirimu wahai ‘Aisyah? Apakah engkau sedang dilanda cemburu?
Spontan ‘Aisyah menjawab: mana mungkin aku tidak cemburu kepadamu? (Nabi adalah lelaki idaman setiap wanita). Riwayat Muslim dan lainnya.
Nabi tidak marah mengetahui istrinya yang begitu pencemburu, karena beliau menyadari bahwa rasa cemburu adalah ekspresi dari cinta dan kesetiaan.
Dr. Muhammad Arifin Baderi, MA
Mengutip perkataan seseorang..
” Cemburu itu dinamika dalam rumah tangga yang merupakan ekspresi cinta..”
:)
Bacalah apa yang memberimu manfaat dan ambillah manfaat dari apa yg engkau baca.
@almonajjid - Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA.
(via twitulama)

Bismillaah…
7 tahun lebih berdekatan dengan dunia pendidikan.
Bertemu dengan berbagai karakter anak.
Mengamati setiap sisi perilaku mereka.
Merasakan sedih dan senangnya keseharian mereka.
Sungguh! Semua itu mampu membuat kami teguh untuk membuang jauh-jauh pertanyaan:
Dan menggantinya dengan belaian dan tanya:
Ketahuilah bunda..
Betapa saat ini telah banyak akhlaq anak-anak rusak, dan membuat kita mengelus dada.
Ketahuilah bunda.. betapa banyak anak-anak rela menjatuhkan kawan maupun lawan hanya demi kesenangan pribadi. Tak peduli apakah itu dzolim atau tidak.
Ketahuilah bunda.. sepintar apapun anak kita tak akan membuatnya indah jika mereka mengabaikan akhlaq mulia.
Ketahuilah bunda.. bahwa fitrah setiap manusia adalah mencintai akhlaq mulia. Maka bekali anak-anak dengannya niscaya akan mudah baginya meraih berbagai keutamaan.
Pertanyaan kita saat mengantar dan menyambutnya adalah titik penting dlm membentuk kepribadiannya. Maka berhati-hatilah!
[catatan kecil dari ibu guru yang sedih melihat betapa banyak anak-anak kehilangan fitrahnya]
~ Dari status Za Ummu Raihan.. such a good reminder for myself..

Jika engkau biarkan suamimu memberimu makan dengan harta yang haram, khawatirilah ini jalan perpisahanmu dengannya setelah engkau mengikatkan diri karena Allah Ta’ala. Jika engkau biarkan suamimu melakukan dosa besar karena tak enak hati padanya jika harus menegur keras, takutlah justru engkau yang terguncang keras.
Sungguh, ada sebab perpisahan yang bukan karena hilangnya perhatian, bukan pula karena berkurangnya kehangatan dan serta pelayananmu kepadanya. Tetapi perpisahan itu terjadi karena ia terjatuh pada dosa-dosa serius.
Ingatlah sejenak hadis ini:
“مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي الله جل وعز أو في الإِسْلامِ , فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا”
“Tak akan berpisah dua orang yang saling berkasih sayang karena Allah Jalla wa ‘Azza atau karena Islam, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).
Perhatikan dengan seksama! Orang yang saling berkasih-sayang karena Allah Jalla wa ‘Azza saja dapat berpisah bersebab dosa salah satu dari keduanya. Mereka menikah karena alasan dakwah. Mereka menikah untuk memuliakan sunnah. Tapi ketika lalai membiarkan istri atau suami mengerjakan dosa-dosa yang serius, perpisahan itu dapat terjadi tanpa dapat dicegah lagi. Apalagi jika sebab bersatunya mereka semata karena saling tertarik atau bahkan oleh sebab-sebab dunia.
Atau keduanya sama-sama melakukan dosa serius. Mungkin tak saling berpisah, tapi sebenarnya mereka tak lagi bersatu karena saling khianat satu sama lain. Na’udzubillahi min dzaalik.
Rawatlah cinta itu, Saudaraku. Rawatlah dengan menjaga agar ia tak terjatuh kepada dosa-dosa besar yang berulang.
Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan dan perlindungan dari kezaliman diri kita sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sekedar catatan, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad ini memang bukan berbicara secara khusus tentang pernikahan. Bukan membicarakan tentang ikatan suami-isteri. Hadis ini berbicara tentang dua orang yang saling mencintai karena Allah Jalla wa ‘Azza atau karena Islam. Tetapi ada yang dapa kita renungkan terkait ikatan hati suami-isteri, betapa ikatan itu pun dapat terlepas bukan karena berkurangnya perhatian, tetapi karena terjerembabnya salah seorang dari keduanya kepada dosa-dosa besar.Na’udzubillahi min dzaalik.
[Dari notes Mohammad Fauzil Adhim]

Semasa lajang aku berpandangan, bahwa dinikahi orang yang berilmu agama lebih mendalam dibanding dirinya adalah sebuah cita-cita yang kelewat tinggi. Banyak wanita muslimah yang sependapat denganku. Bila ada seorang akhwat dipersunting oleh seorang guru ngaji, atau ustadz, atau sekadar seorang penuntut ilmu yang memiliki cukup ilmu keislaman, ia akan berpikir, “Layakkah aku menjadi isterinya?”
Banyak di antara wanita muslimah itu yang akhirnya menikah dengan pria-pria shalih idaman mereka itu. Ternyata tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya menyadari, bahwa kelebihan ilmu semata bukanlah segala-galanya. Ada orang yang terlihat begitu piawai dalam ilmu keagamaan, begitu mengerti seluk beluk ajaran Islam, namun di medan realitas ia terpuruk jatuh. Akhlak, amalan dan ibadahnya tak lebih baik dari seorang awam yang hanya mengerti sepotong dua potong persoalan agama. Bahkan terkadang bisa lebih buruk dari itu…
[Ustadz Abu Umar Basyier, dalam bukunya Aku, Wanita Yang Dipoligami hal. 89]
*a little note buat para lajangiyyun yang hendak mencari tambatan hati.. be mindful.. be careful :)
Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya. Jika ia melihat aib pada saudaranya, maka hendaklah ia meluruskannya. (Adabul Mufrad)
Cantik sekali ya nasihat di atas. Seorang mukmin ibarat cermin bagi saudaranya. Cermin? Pernah becermin? Apa yang terlihat? Apa yang tampak? Cermin tidak pernah berdusta, bukan? Refleksinya hampir 100% dengan kondisi kita saat itu. Hanya simetrisnya yang terbalik, kanan menjadi kiri, kiri ditampakkan kanan.
“Jika ia melihat aib saudaranya, hendaklah ia meluruskannya.” Nah, disitulah fungsi cermin. Seseorang bercermin karena ingin memperbaiki penampilan, bukan? Begitulah saat melihat kekurangan saudara kita, ibaratnya seperti melihat kekurangan diri sendiri, karena dialah cermin kita. Maka, saat cermin itu menampakkan kekurangan, serta merta kita perlu pembenahan.
Jika engkau mencela saudaramu dan mengungkit-ungkit cacatnya, maka engkau tak ubahnya sedang mencela dirimu sendiri. Sebab orang beriman satu sama lain ibarat bangunan yang saling mengokohkan. (Syaikh Abdullah Azzam)
Yak, maka benar sekali nasihat ini, bahwa jikalau ada kekurangan dalam diri saudara kita, jangan sampai kekurangan itu menggugurkan segala kebaikan yang ada padanya.
Khilaf, mungkin kita khilaf. Ketika menasihati justru menjadi ajang pembenaran pribadi. Ketika menasihati justru akan mempermalukan saudaranya sendiri. Ketika menasihati justru merobohkan bukan malah menguatkan pondasi. Jika nasihat masih bisa disampaikan dengan penuh kelembutan, apa untungnya menasihati dengan sepenuh arogan? Jika lembutnya lisan masih mampu memperbaiki, apa perlu kita hadiahkan caci maki?
Memberi nasehat ibarat memberi hadiah. Maka sebelum mengulurkan tangan memberikannya, pastikan terlebih dulu, hadiah apa yang pantas ia terima.
#NtMS :)